[warta 02] Kecemburuan Pada Atlet

Tanggal terbit : 20 Juli 2008

Saat ini banyak pemain bola tengah berpindah klub. Nilainya tentu fantastis. Kalau dirupiahkan, untuk setiap tarikan nafas (walaupun sedang tidur), pesepakbola bisa menerima jutaan rupiah.

Apakah Anda tergiur bisa bekerja seperti itu? Well… kadang kita tidak tahu lho apa yang bisa membawa mereka ke sana. Jangan kira atlet itu kerjanya hanya bermain. Mereka juga latihan super keras dan penuh disiplin.

David Beckham berlatih khusus jam-jam-an per hari untuk bisa melakukan tendangan bebas ‘bend-it-like-beckham’-nya itu. Memar-memar setiap pertandingan? Biasa. Patah atau retak tulang.. rasanya setiap atlet besar pernah cedera cukup parah.

Dan yang harus dikorbankan untuk bisa semahir itu bukan satu dua tahun. Saya pernah melihat liputan anak-anak remaja Inggris yang sedang dibina di sekolah sepakbola klub besar. Jauh dari orang tua, tidak kenal bermain, harus diet ketat sejak dini (dilarang makan coklat dan eskrim… sedih sekali), kehilangan masa ‘normal’ anak-anak.

Walau demikian saya tetap cemburu pada atlet. Bukan pada bakatnya. Saya percaya Tuhan memberikan bakat yang cukup untuk setiap orang. Saya juga tidak cemburu pada penghasilan mereka. Dari ribuan yang berusaha, hanya segelintir koq yang sukses, dan untuk sukses, mereka ‘ada pengorbanan’.

Tidak ada istilah ‘hidup itu mudah’ koq.

Yang saya amat cemburu adalah kenyataan bahwa mereka melakukan pekerjaan yang mungkin adalah hobby-nya sejak kecil.

Alangkah indahnya dibayar untuk sesuatu yang amat suka kita kerjakan. Jarang kita bisa berkata bahwa hobby kita adalah pekerjaan kita sekarang. Bahkan, sulit juga untuk mengatakan bahwa kita mencintai pekerjaan kita sekarang.

Itulah kecemburuan saya pada atlet. Mereka melakukan sesuatu yang mungkin ‘seumur hidup ingin dilakukannya’. Sedangkan kita sering beranggapan bahwa pekerjaan kita adalah pekerjaan yang ‘terpaksa’ dilakukan.

Hasilnya pun terlihat. Di dunia olahraga, kita sering melihat aksi heroik dari para pemain. Seorang pelari benua Afrika (lupa namanya), pernah memaksakan diri untuk menyelesaikan lomba marathon walau tertatih-tatih dan tertinggal berjam-jam karena cedera. Kenapa dia tidak berhenti saja? Untuk apa mereka melakukan tindakan seperti itu? Apakah karena dibayar? Apakah karena akan dipuji?

Koq susah melakukan hal seheroik itu untuk pekerjaan kita? Susah banget untuk berbuat lebih untuk pekerjaan kita atau mati-matian bekerja, hanya dengan alasan “demi cinta saya pada pekerjaan saya”. Itulah kecemburuan saya pada atlet. Mereka bisa berkata bahwa pekerjaannya adalah cintanya. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *