[warta 84] Kepantasan

Tanggal terbit : 4 Sep 2011

Ada sebuah film lama tahun 1990 yang berjudul “The Bonfire of the Vanities”, yang dibintangi oleh Tom Hanks dan Bruce Willis. Film ini menceritakan seorang profesional muda yang membiarkan teman kencannya mengendarai mobilnya, dan kemudian mobil itu menabrak seorang anak dari keluarga miskin dan minoritas kulit hitam, sehingga si anak masuk rumah sakit. Si profesional muda gagal meyakinkan teman kencannya untuk menyerahkan diri ke polisi, sehingga mereka melarikan diri.

Cerita berkembang saat kasus ini mencuat karena seorang wartawan bisa mengupas kasus ini dan mengambil tema besar “golongan kaya menganiaya golongan miskin”. Dari sana terlihatlah perilaku-perilaku menarik dari orang-orang sekitar yang ingin memanfaatkan kasus ini. Jaksa penuntut ingin terkenal karena kasus ini jadi perhatian publik, dan dengan segala cara ingin memastikan si profesional muda dipenjara.

Pemuka agama dari lingkungan korban juga mengambil kesempatan ini untuk menjadi populer. Dia mendekati ibu korban untuk ‘tampil’ bersama di muka publik agar ‘perhatian’ kepada keluarga miskin ini diekspose oleh publik.  Bahkan, ibu sang korban pun terhasut untuk ikut ngetop, dengan malah memikirkan pakaian apa yang harus dia kenakan saat harus berhadapan dengan para wartawan. Para pemilik media pun ‘senang’ karena mendadak oplah-nya naik karena kasus ini, sehingga makin mengeksploitasi. Si teman kencan pun menggunakan kesempatan ini untuk ‘tidak mengaku’.

Pendek kata, semua orang kelihatannya akan ‘untung’ kalau si profesional masuk penjara. Warga pun sudah terhasut media dan langsung menganggap si profesional muda bersalah.

Film ini berusaha menunjukkan bahwa memanfaatkan situasi untuk kepentingan sendiri itu mudah. Kita hanya butuh kesempatan dan kemauan untuk menggunakannya, apalagi bila tindakan itu kayaknya tidak sampai ada yang mati atau terkena impak parah. Kita pun gampang dipengaruhi oleh media, oleh apa kata-kata dari orang yang kita anggap selebriti.

Jika hukum tidak bisa mencegah hal ini lantas apa yang bisa? Film ini hanya menjawab lewat ucapan sang hakim di akhir film, yang berkata bahwa kita harus bertindak apa yang menurut kita pantas (be decent). Apa itu pantas? Sesuatu yang diajarkan oleh para orang tua kepada anaknya.

Film ini sudah berusia 20 tahun. Apakah setelah 20 tahun, apa sih tindakan yang pantas yang kita ajarkan kepada anak-anak kita? Masihkah tindakan memanfaatkan situasi untuk kepentingan sendiri, seperti korupsi dan kecurangan lain, dianggap tindakan yang tidak pantas? Bahkan walau tindakan itu tidak akan kena hukuman, selain hukuman dari Tuhan yang tentu tahu itu sebenarnya tidak pantas? Semoga masih. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *