[warta 56] Kerja Keras

Tanggal terbit : 15 Agustus 2010

Sebuah cerita yang saya suka mengenai kerja keras adalah cerita tentang seorang hartawan yang ingin mendidik anaknya dengan menyuruhnya belajar bekerja untuk mendapatkan uang. Dia memberikan anaknya barang untuk dijual di pasar.

Si anak lantas mengadu pada ibunya, mengapa harus susah-susah dan merendahkan diri menjajakan barang di pasar. Sang ibu pun luluh. Dia memberi anaknya sekeping uang emas untuk diserahkan kepada ayahnya.

Sang anak pun menghadap ayahnya dan menyerahkan sekeping uang emas itu. Sang ayah menyuruhnya membuang keping emas itu ke tong sampah. Sang ayah pun menyuruhnya kembali ke pasar.

Kali ini sial bagi sang anak, sang ibu sedang ke luar kota. Terpaksa sang anak ke pasar dan menjajakan barang dagangannya. Ketika memberikan keping emas itu kepada ayahnya, ayahnya kembali menyuruhnya membuang ke tong sampah.

Kali ini sang anak menjawab, “Yah, saya itu harus keliling berjam-jam untuk dapat sekeping emas ini. Enak saja ayah menyuruh saya membuangnya ke tong sampah.”

Sang ayah tersenyum, dan berkata, “Harusnya kamu menjawab seperti ini sejak kemarin.”

Kita selalu ingin generasi di bawah kita tidak ‘sesusah’ kita. Akibatnya kita lantas berusaha agar anak-anak kita tidak perlu ‘kerja keras’. Seperti sang ibu, kita sering memasangkan ‘kerja keras’ dengan ‘kesusahan’.

Jangan sampai deh sang anak susah karena harus kerja keras. Di saat mereka sekolah, kalau bisa, kita tidak ingin anak kita turun jauh dari tempat mereka belajar. Kalau bisa, kita ingin anak kita tidak perlu buka pintu mobil, dan tidak perlu menjinjing tasnya yang berat ke kelas.

Di saat mereka bekerja, begitu mengeluh mengenai capeknya bekerja, kalau bisa, kita inginnya mereka keluar saja dari pekerjaan itu, dan kita berikan mereka usaha sendiri yang mereka suka kerjakan.

Padahal kalau kita menggunakan kacamata sang ayah, ‘kerja keras’ bukanlah kesusahan. ‘Kerja keras’ membuat kita menghargai apa yang kita capai.

Kerja keras membuat kita punya semangat untuk memperjuangkan apa yang ingin kita capai.  Berapapun keping emas yang diberikan kepada sang anak, akan habis dan kita bisa melihat bukti hal tersebut pada kasus orang terkenal yang berkelimpahan uang namun bisa tetap ‘ludes’ dalam cepat, seperti Mike Tyson dan Nicholas Cage.

Dan alam sendiri selalu mengharuskan setiap elemen kehidupan itu berjuang untuk bisa tetap eksis. Di dunia olahraga yang terukur pun jelas terlihat bahwa tidak ada pemenang yang bisa melenggang tanpa kerja keras. Kita harus berupaya untuk mempertahankan nilai ‘kerja keras’ ini dan membedakannya dengan kesusahan.

Jika kita ingin generasi mendatang bisa menghadapi kehidupannya, berikan bekal etos kerja keras seperti sang ayah dalam cerita tersebut. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *