Travel

[place] Teluk Naga & Pondok Lauk Tangerang (2006)

 It is not always what we know or analyzed before we make a decision that makes it a great decision.
It is what we do after we make the decision to implement and execute it that makes it a good decision.
(William Pollard)

Selama ini rasanya kalau di Jakarta, wisata artinya ke mall. Pengen sebetulnya bisa outdoor activities, misalnya ke garden, beach atau apa lah.. asal bukan mall.

Sore tadi rasanya pengen pergi, tapi juga engga pengen jauh-jauh. Pilihannya Bogor, Gua Maria Kanada, atau ke Tangerang aza. Karena sudah sore, kayaknya yang paling feasible adalah ke Tangerang.

 Decision making needs decision makers and they require information to make their decisions.

Jadi kami riset deh di internet, ke web-nya Kabupaten Tangerang ? pengen tau ada apa sih di Tangerang ini. Ternyata menurut info ada beberapa pantai, diantaranya Pantai Tanjung Kait dan Pantai Tanjung Pasir. Bermodal info ini, ketemulah di web yang di sebut Kawasan Wisata Teluk Naga. Exotic sekali kan namanya!

Dalam salah satu info dari web yang lain diceritakan bahwa Teluk Naga adalah tempat  kedatangan orang Tionghoa Tjen Tjie Lung (Halung), daerah muara sungai Cisadane pada tahun 1407.

Saat ini Teluk Naga adalah nama sebuah kecamatan. Kalau dari arah Serpong, jalan ke Bandara Soekarno Hatta lewat Tangerang, terus sampai dengan Kampung Melayu, menyusuri Sungai Cisadane sekitar 15 km dari Tangerang. Di ujung Sungai Cisadane ini terdapat Pantai Tanjung Pasir. Dari Pantai ini, katanya bisa melihat gugusan kepulauan seribu yang indah.

Tetapi kami tidak menemukan info apapun mengenai tempat ini, terutama dari pengalaman yang pernah pergi. Malahan yang kami temukan adalah berita dari Tempo, kalau kawasan Teluk Naga terendam karena banjir Januari 2005, tidak memutuskan niat kami buat pergi. Tokh itu kejadian tahun lalu.

Four steps to achievement: Plan purposefully. Prepare prayerfully. Proceed positively. Pursue persistently.
(William A. Ward)

Jadilah jam 16.00 tadi sore kami berangkat. Berbekal peta Jakarta, kami yakin bisa mencapai Teluk Naga dan Pantai Tanjung Pasir ini. Perjalanan sampai dengan Bandara Soekarno Hatta cukup menyenangkan, l tetapi 10 menit kemudian.. wah jalanan yang harus ditempuh sama sekali tidak manusiawi. Semakin diteruskan semakin berasa berada di sirkuit off road. Kubangan lumpur dan lubang di jalan yang bukan saja banyak tapi besar. Berasa tanggung, walaupun mobil kami engga mungkin untuk off road karena pendek, kami tetap teruskan buat jalan.

Sekitar 4 km deh sirkuit off road ini, setelah itu walaupun masih banyak lubang tetapi masih sangat ok. Bahkan kami menemukan ?peradaban? kembali ? ada debit BCA saat melewati pasar. Senangnya?

Setelah melewati pasar, akan ada pertigaan. Ambil kanan menurut petunjuk jalan. Terus kami cek lagi ke peta, wah betul.. tinggal sekitar 6 km, sampai deh ke pantainya. Tapi ternyata setelah 2 km pertama, jalanan semakin sempit kemudian off roadnya lebih heboh, kubangan lumpur yang banyak, besar dan ditambah dalam. Mobil yang lewatpun sangat jarang. Lagian siapa juga coba yang rela lewat jalan seperti itu. Setelah 6 km dari pertigaan tidak keliatan tanda2 ada pantai, hanya ada mangrove, bahkan jalanannya tambah sempit dan hancur.

Kondisi Jalan

Kondisi Jalan

Dengan tekad bulat, kembali aza deh ke Tangerang.

Perjalanan kembali, walau terasa lebih cepat daripada waktu berangkat (heran juga sih, kemanapun kalo liburan rasanya kalau pulang berasa lebih cepat ya..) harus kembali off road deh.

Good decisions come from experience, and experience comes from bad decisions.

Tapi biar gimanapun, banyak pengalaman yang kami dapat:
1.  Kayaknya kalau mau wisata yang dekat memang ke mall
2.  Kami sama sekali belum siap untuk off road
3.  Kalau mau pergi, lebih baik mendapatkan info lengkap terlebih dahulu, terutama untuk kawasan wisata yang kemungkinan belum dikembangkan
4.  Dan terakhir, tampaknya untuk kawasan wisata yang belum dikelola, lebih baik jangan didatangi kecuali sudah siap untuk repot. Sedih memang. Sewaktu kami di NZ, banyak sekali look out yang bisa didatangi dan dinikmati. Bersih dan manusiawi. Disini, walaupun mungkin lebih bagus, tampaknya masih lebih banyak lagi yang butuh perhatian dan penanganan yang lebih serius.

Pondok Lauk

Pondok Lauk

Anyway, sebelum memutuskan buat ke Teluk Naga, sebetulnya sudah riset dulu untuk ke Pondok Lauk. Jadi, pas ketemu Tangerang lagi.. langsung deh cari jalan Baharudin buat makan malam. Mengenai Pondok Lauk, bisa lihat disini. Minimal, kami mendapatkan ending yang menyenangkan lah.

Decisions are the endless uncertainties of life that we’ll not know if they’re right until the very end, so do the best you can and hope its right. (Lily Collins)

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Powered by: Wordpress