[travelog] Jalan-Jalan di Makassar (2006)

Dulu pas jaman masih duduk di bangku sekolahan, nama resminya bukan Makassar tapi Ujung Pandang. Tapi semenjak president III RI (th 1999) – kota terbesar di Timur negeri ini namanya menjadi Makassar kembali. Kata Makassar ini berasal dari sebutan bangsa Portugis – Macassar untuk semua pelabuhan-pelabuhan singgah di timur.

Ibu kota Sulawesi Selatan ini dikenal dengan pahlawan Sultan Hassanuddinnya dan juga kota tempat pembuangan Pangeran Diponegoro dan keluarga setelah ’kalah’ perang.

Penduduk kota angin mamiri ini tentunya bisa berbahasa Indonesia, tapi somehow karena cepatnya dan dengan intonasi yang berbeda, buat telingaku jadi sering kali sulit buat ditangkap lagi ngomong apa.

PANTAI LOSARI

Tempat wisata yang terkenal dari Makassar ini adalah Pantai Losari, Pantai Akarena, Benteng Somba Opu, dan Fort Rotterdamnya.

BENTENG JUNGPANDANG (FORT ROTTERDAM)

Di Fort Rotterdam ini tidak saja merupakan benteng, tetapi juga saksi bagaimana Belanda (VOC) dulu masuk ke Makassar.

Benteng ini dibangun oleh raja Gowa IX, Daeng Matanre Karaeng Tumaparisi Kallona, dan diselesaikan oleh putranya Raja Gowa X, I Manriogau Daeng Bonto Karaeng (Lakiung) Tunipalangga Ulaweng pada th 1545. Arsitektur bangunan benteng saat itu berbentuk rumah tinggal bertiang tinggi tradisional Makassar.

Tahun 1667, Benteng ini jatuh ke tangan Belanda setelah Kerajaan Gowa kalah dalam ’Perang Makassar’ dan dipaksa menandatangani ’Perjanjian Bongaya’. Belanda kemudian mengubah benteng dari berbentuk segi empat dikelilingi 5 bastion, menjadi berbentuk trapesium dengan tambahan satu bastion di sisi barat. Nama benteng pun diubah menjadi Fort Rotterdam, nama kota tempat kelahiran Gubernur Jendral Belanda Cornelis Speelman. Benteng ini kemudian difungsikan sebagai pusat pemerintahan Belanda di Sulawesi Selatan.

Ada gereja, rumah pastur, rumah penduduk, gudang niaga, gudang senjata, kantor administrasi, penjara, bahkan konon juga ada tiang gantung-nya.

Di tempat ini pula, Pangeran Diponegoro sempat dipenjara. Benteng yang semula dikeliling parit lebar ini sekarang berfungsi sebagai Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makassar dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, juga menjadi museum “La Galigo”; tempat dimana peningalan2 budaya Makassar disimpan. La Galigo ini diambil dari nama Raja Luwu ke-IV. Ia adalah putera Sawerigading Opunnaware dari perkawinannya dengan We Cudai Daeng Risompa yang berasal dari kerajaan Cina-Wajo. Musium La galigo ini menyimpan barang2 (yang cukup terawat) seperti miniatur perahu, alat-alat pertanian, alat musik, pakaian adat, mesin tenun, dan beberapa peninggalan kuno lainnya.

Salah satu tempat yang bisa dilihat juga di tempat ini adalah penjara P. Diponegoro. Sungguh menyedihkan hati. Pendek, gelap, dan konon bau sekali jaman dulu karena tidak ada urinoirnya.

Pas keliling2, keliahatan ada tunnel yang menurut guide-nya dulu bisa mengantar kita ke pusat kota. Saat ini sudah ditutup – tetapi eit… jangan buru2 pergi. Ternyata tempat tersebut sekarang digunakan oleh seorang pelukis.

Si Pelukis ini bercerita banyak mengenai lukisannya. Menurutnya lukisan yang dia lukis ini adalah hasil dari pembelajaran beliau mengenai sejarah dan meditasinya. Dia bercerita mengenai perang diponegoro, sampai dengan perangnya sultan hasannuddin. Mengenai Fort Rotterdam dan juga Somba Opu. Ceritanya enak dan jadi belajar banyak hal; termasuk yang dijadikan materi dari tulisan ini. Satu hal yang dia tidak ceritakan (dan juga engga berani tanya) adalah apakah lukisan2 itu sebetulnya dijual atau tidak. Tidak ada harga yang tercantum, dan kalau ditilik dari cara dia cerita; lukisan yang dipajang dibawah tanah itu (tunnel) tampaknya terlalu sayang untuk dilepas/dijual.

Untuk masuk ke benteng ini tidak dipungut biaya resmi, tetapi diminta secara suka rela. Terserah deh mau ngasi berapa. Begitu juga dengan tour guide-nya, engga minta resmi.. dan juga engga mengeluh dg berapapun yang kita kasi.

Lokasi : Jl. Ujung Pandang, Kel. Bulogading, Kec. Ujung Pandang.

MAKAM PANGERAN DIPONEGORO

Setelah Perang Diponegoro th 1825-1830 (ini satu2nya dari pelajaran sejarah mengenai tahun perang yang masih ingat lho!), disusul kekalahan beliau karena dijebak oleh Belanda dengan berpura-pura mengajak berunding; beliau ditangkap, dibuang dan diasingkan ke Manado.

Pada tahun 1834, P. Diponegoro dipindahkan ke Fort Rotterdam, Makassar.

Pada tanggal 8 Januari 1855 beliau wafat dan dimakamkan di komplek inibersama dengan Isterinya (R.A. Ratu Ratna Ningsih), anak, cucu, dan cicitnya. P. Diponegoro sebelumnya bernama P. Antawiryo merupakan keturunan Raja Kesultanan Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono III. Menurut penjaga makam yang juga keturunan dari P. Diponegoro; semua anak2 P. Diponegoro menikah dg penduduk asli Makassar (Bugis?) sehingga mereka sudah tidak bisa berbahasa Jawa lagi.

Untuk masuk ketempat ini tidak dipungut biaya, sekedar memasukan uangn kedalam kotak yang telah tersedia dan mengisi buku tamu sudah menyenangkan hati mereka.

 

4 thoughts on “[travelog] Jalan-Jalan di Makassar (2006)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *