Home, Products, Tools

[electronic] Sony Xperia SP

FINAL VERDICT (sold, after almost one year used) :

  • Apparently, my unit was a defect one. The proximity sensor was broken. And the default is 0, so for every call, the screen went blank. Sadly, there’s no service center in Serpong. At last, I found the way, by installing Hardware Disabler, and I disable the sensor. So, for every call, the screen never went blank (risk of your ear clicking buttons). And to do this, you need to have ROOT.
  • Beside from that, overall, I am happy with the performance. Especially : (1) screen – the Bravia engine did make difference, (2) the light notification really helped, (3) sturdiness, several times fell (with silicon cover) and didn’t break.
  • Some areas that I didin’t like : (1) battery – the native battery management was poor, the 2300mah couldn’t pass office hour, (2) contacts – earlier it only could sync via Google contact, later on it can directly sync with Outlook but the grouping was not imported

Original Post

Dari posting sebelumnya (klik sini), era mobile-phone saya dimulai dengan Samsung (hanya 1 tahun), lalu muncul dinasti Nokia yang digunakan selama 8 tahun. Blackberry mampu menggulingkan Nokia dan bertahta selama hampir 4 tahun. Kini akhirnya era Blackberry handset berakhir, digantikan Android device.

Dari awal memang mengincar mobile phone Android. IOS sudah ada ipad, dan iphone (dibanding saingan) sekarang sudah overpriced. Sempat melirik Windows phone (gara-gara Olivia Pope di serial Scandal), tapi masih ragu.

Seperti biasa, pencarian selalu dimulai dari top tier product. Canggihnya fungsi Samsung Galaxy S4. Cakepnya HTC One yang melebihi iphone. Kamera dan tahan airnya Xperia Z series. Dan pendatang baru yang amat memikat : LG G2. Semuanya dibandrol di atas Rp 6 juta.

Biasa lah, pengennya yang keren dulu (walau tidak se-desperate itu untuk punya warna gold sih). Namun devil’s advocate untuk smart spending dari istri memang manjur. Toh setahun ini pakai Blackberry yang di bawah 2 juta (dan biasanya di semua pertemuan selalu jadi the cheapest handset) juga baik baik saja. Malahan berapa kali jatuh ga rusak-rusak.

Aakhirnya coba menggunakan logika dan rasionalitas akan kebutuhan. Apa sih yang sebenarnya penting.

  1. Yang pertama malahan ga ada hubungan dengan kecanggihan. Simply form factor. Semua yang disebut sebelumnya ukurannya besar banget. Digenggam 1 tangan ga enak. Dimasukin kantong celana juga ga nyaman. Ini juga yang membuat jadi ragu-ragu akan LG G2. Apalagi pengennya bisa dibawa lari tanpa harus nempelin di lengan.
  2. Setelah direnungkan, yang berikutnya muncul adalah QWERTY. Baru nyadar belum pernah pakai yang touch. Tapi utk kebutuhan ini sepertinya harus kompromi utk dihilangkan. Tidak ada pilihan menarik.
  3. Yang bakal sering kejadian juga sepertinya adalah jatuh. Itu sebabnya no 1 jadi tambah penting. Makin besar ukuran, makin mungkin berada di luar saku celana, dan makin mungkin untuk jatuh.
  4. Kamera memang penting karena dari dulu device yang dipakai tidak ada yang bagus kameranya. Namun setelah direnungkan, ga penting juga untuk benar-benar canggih dan tahan air. Toh momen yang ditangkap juga yang jelas candid.
  5. Spek prosesor-storage-RAM. Ini harus lumayan karena sepertinya semua smartphone cepat bener perkembangan kebutuhan resource ini. Pengen yang bisa bertahan at least sampai android versi L atau M deh.
  6. Yang jelas disadari untuk tidak terpengaruh godaan spek : (a) layar dan audio– ga akan nonton di sini, jadi ga perduliĀ viewing angle, IPS, dst (b) kebutuhan untuk game — ga akan main di sini.

Dari kesemua pertimbangan di atas, akhirnya pilihan jatuh ke Sony Xperia SP. Harganya saat beli Rp 4 juta, belum memecahkan rekor sebelumnya yang sebenarnya ga jauh sih harganya, yaitu Blackberry Bold.

Sony Xperia SP

Sony Xperia SP

Alasan kenapa Sony Xperia SP :

  1. Ukuran sedikit lebih kecil dari para top tier. Masih oke dipakai 1 tangan, dan nyaman di kantong celana panjang. Cuma emang ga bisa masuk ke saku beberapa celana lari.
  2. Resource Dual-Core-1.7GHz, 1GB Ram, 8GB Storage. Sempet tergoda QuadCore, tapi kalau dipikir, mending kejar 1.7-nya saja. Toh ngga akan butuh keunggulan quad-core-nya (multi-task).
  3. Sudah LTE (walau ga tahu sempat dipakai di Indonesia atau tidak)
  4. Kamera biasa saja, namun spek Sony yang 8M dan1080 video cukup lah.
  5. Battery, ini yang agak di bawah ekspektasi, 2370 mAh. Harus perketat setting agar bisa bertahan 1 hari.
  6. Brand. Ini pertama kalinya pakai merk Sony untuk mobile phone. Semoga cocok, karena sebelumnya brand ini belum pernah mengecewakan, dan puas banget untuk Playstation dan Vaio-nya.

Yang juga unik adalah lampu untuk notifikasi seperti Blackberry LED. Bisa diset warna apa untuk notifikasi apa. Kelihatannya cuma gimmick, tapi beberapa hari pakai, ternyata berguna juga.

Selain tipe ini, sempat masuk juga kandidat berikut : Xperia ZR (terlalu mahal utk spek yang tidak berguna – tahan air dan layar lebih bagus), LG Optimus (kecil tapi spek kecil juga), Lenovo P780 (batere 4000mAh! tapi ukuran besar), Nexus baru (besar).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Powered by: Wordpress