Rasanya sih biasa aja..; layak untuk disebut soto surabaya tapi engga luar biasa banget. Hanya saja “gebrak”-annya itu lho yang bikin tenar dan jadi bahan perbincangan banyak orang. Gebrak disini maksudnya bunyi2an lho yg bikin ‘jantungan’ buat yang terutama pertama kali datang. Asalnya dari botol kecap (mungkin lho, soalnya gelap dan besar botolnya) yang digebrakin dengan keras setiap kali meracik soto.
Menu yang disediakan adalah soto ayam dan soto daging juga rawon. Pelayanannya cepet banget, soalnya kan tinggal tuang kali ya. Tempatnya biasa saja seperti warung lainnya. Meja panjang tanpa taplak plus bangku plastik. Kalau dari segi harga, untuk ukuran warung engga bisa dibilang murah. Standard warung Jakarta deh. Dengan ngambil macem2 tambahan, buat berdua nyaris habis rp. 50K
Yang pasti pemiliknya: bp. HM Anton K telah berhasil menerapkan experiential marketing; tidak saja membuat soto yang enak tetapi juga menawarkan pengalaman baru karena makan soto sambil terkejut dan tersenyum (kalau engga tersenyum dan marah, engga mungkin deh kembali lagi..lagian sudah ada papan tanda yang dipasang di lokasi: Senyum Boleh, Marah Jangan)
Favorite kami adalah soto ayam yang kemudian ditambahi sendiri di sotonya: emping & perkedel plus sambal dan kecap!
Lokasinya di daerah Setiabudi, belakang Setiabudi Building deket SMAN 3
