It's Life

[reflection] Do You Have Ownership on Your Work?

Kata ‘ownership’ sering saya dengungkan di kantor belakangan.Zen
Kenapa? Karena ironisnya, makin matang perusahaan, aspek ownership makin sulit dicari.
Kenapa susah? Karena membangun ownership lebih sulit ketimbang membangun kepatuhan (lewat aturan dan prosedur).

Saat Anda pergi ke Carrefour, seringkali di suatu gang/rak, ada SPG-SPG yang represent merk atau produk ybs. Mereka sudah ‘diajarkan’ (lewat aturan dan prosedur) untuk menawarkan atau memperkenalkan produk, dan melaporkan hasilnya tiap bulan.

Kondisi yang mirip Anda temui saat pergi ke pasar, dan melihat para pemilik (atau manager lah) kios di kedainya masing-masing. Beda perlakuannya. Walau mungkin SPG lebih berpendidikan dan berpakaian rapi, tapi pemilik kios sayur, walau mungkin pendidikan lebih rendah, akan memastikan segala hal, agar pengunjung datang, membeli, puas, dan balik lagi.

—–

Bagi saya ownership BUKAN sesempit memiliki saham, melainkan memiliki ‘pekerjaan’ saya sendiri, bukan disuruh oleh beberapa paragraf job-desc, sekelumit aturan, dan segepok prosedur. Analogi bagus adalah pekerjaan sebagai ibu (mother). Adakah job-desc-nya? Aturannya? Prosedurnya? Seseorang baru bisa jadi ibu yang ‘baik’ kalau memahami arti pentingnya seorang ibu, dan get ownership akan perannya sebagai seorang ibu.

Ownership juga BUKAN hanya di level ‘atas’.
Seorang supir pernah berkata kepada saya, bahwa tugasnya bukan sekedar mengantar bos-nya, tapi membuat bos-nya punya waktu untuk berpikir, bekerja, atau sekedar beristirahat untuk hal-hal yang lebih penting ketimbang nyetir. Wow bukan? Tidak kaget kalau suatu saat, dia akan punya ‘bisnis’ sendiri 🙂

Ownership juga BUKAN untuk kepentingan perusahaan.
Semua orang ingin maju, dan perusahaan hanyalah tempat aspirasi hal itu.
Tanpa ownership, kemajuan seseorang hanya diukur dari senioritas.
Kenapa? Ya karena semua dianggap ‘oke’ dan dapat ‘jempol’ saat SESUAI aturan dan prosedur.
Penghambat kemajuan terbesar banyak orang adalah :
1. Saat mendefinisikan apa yang dilakukan, selalu lihat ke luar (aturan, disuruh, semua orang juga begitu), harusnya ke dalam (ownership).
2. Saat mendefinisikan hasilnya, selalu lihat ke dalam (sudah kerja keras), harusnya ke luar (apa kata orang, apa yang dihasilkan).

—–

Ownership-sense juga membawa ‘curse’… (atau ‘gift’? it’s up to you)…
1. Paranoia. Selalu kepikir hal di luar apa yang seharusnya dipikir. Karena engga bisa berdalih, ah kalau fail pun, itu bukan salah saya karena bukan tugas saya.
2. Clean the Mess. Selalu melihat apa yang belum ke-pegang (biasanya kerjaan sisa.. sampah.. menyebalkan) dan kalau memang tidak ada yang kerjakan .. yah gimana ya..
3. Susah terikat aturan.. terutama waktu (bablas jam kantor, week-end, dst).
4. Step Up (or Sacrifice?). Jikalau diperlukan, ya maju (karena .. engga ada orang lagi).

Tapi kalau dipikir-pikir 4 hal di atas adalah modal utama utk sukses atau jadi leader yg baik.
1. Kalau engga paranoia, engga bisa berpikir strategis (out of the box)… selalu status quo (cerita kodok yang direbus pelan-pelan..).
2. Kalau dipikir, tidak ada eskalasi hal indah, yang dieskalasi selalu problem, so biasakan untuk deal with cleaning the mess (kebayang engga posisi panas presiden RI?).
3. Ownership membuat seseorang lebih mengerti makna aturan, sehingga tidak terkungkung olehnya.
4. Step up… membuat kadang kita tidak percaya bahwa kita bisa melakukan sesuatu (Henry Ford : whether you think you can or cannot, you’re right). Sepuluh tahun, ada orang baru lulus kuliah yang menceramahi marketing director perusahaan terkemuka mengenai dunia masa depan dimana internet akan menjadi dominan hehehe…

Intinya ownership akan hal simple (kerjaan anda dulu deh), akan membantu mendobrak barrier utama untuk sukses.. yaitu .. your own mind.

Sukses di sini bukan melulu karir… coba saja baca ulang, tapi dengan konteks jadi orang tua yang baik.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Powered by: Wordpress