Movies & TV

[mov] The Story of Us (1999)

The Story of Us (1999)

The Story of Us (1999)

Genre : drama, romance
Rating : 4/5
IMDB link click here

Cinta itu kebebasan
Tetap memberi kesempatan, senyum serta pengampunan
(lagu dari Buku Biru no. 166)

Pria. Wanita. Bertemu. Saling suka dan jatuh cinta. Pacaran dan akhirnya mengikat janji setia satu sama lain dalam ikatan pernikahan. Kemudian satu per satu permasalahan mulai timbul. Ada yang bisa diselesaikan. Ada yang tidak dapat diselesaikan. Memutuskan untuk menikah tidak dapat hanya dilandaskan oleh cinta, karena cinta saja tidak cukup untuk membuat pernikahan bertahan dan bahagia.

Diawali dengan sakramen pernikahan yang bahagia dan meriah. Ada yang akan tetap bahagia setelah sekian waktu berlalu. Happily ever after seperti banyak diceritakan di dongeng-dongeng (sebut saja; Cinderella dan Puteri Salju). Tetapi ada juga yang terpaksa harus ‘berakhir’ dalam waktu singkat. Membuat suatu pernikahan dapat bertahan dan bahagia memang tidak mudah.

Film “The Story of Us” (1999) bisa menjadi adalah cerita tentang kita juga. Sebuah cerita emosional romantis yang menceritakan tentang perjuangan Ben (Bruce Willis) dan Katie Jordan (Michelle Pfeifer) untuk mempertahankan pernikahan mereka dan mencari tahu hal yang menyebabkan mereka bisa bertahan selama 15 tahun. Pernikahan Ben dan Katie menghadapi banyak masalah sama seperti yang dihadapi oleh pasangan lain. Setelah bertahan selama 15 tahun, pasangan ini menghadapi sebuah pertanyaan yang serius: “Mengapa banyak hal yang telah membuat mereka saling jatuh cinta, kini malah memisahkan mereka?” Mengapa yang tadinya ‘Yes, I do’ kini menjadi ‘Yes, I did’

Pertengkaran demi pertengkaran yang terjadi antara Ben dan Katie bukan lagi sebuah bumbu rumahtangga, tetapi sudah terkondisi. Konflik terjadi karena mereka memiliki sudut pandang yang berbeda terhadap suatu hal dan berpikir bahwa pasangannyalah yang salah. Perasaan marah, kesal, bosan pada pernikahan mereka, membuat mereka mengambil keputusan untuk berpisah sementara. Mereka memutuskan untuk berpisah sejenak karena percaya yang kini diperlukan adalah ketenangan dan kesendirian masing-masing, untuk menemukan kembali nilai pernikahan mereka.

Namun demikian tidak ada satupun dari antara mereka memiliki hidup lebih baik dari pada saat mereka belum berpisah. Bahkan disaat perpisahan sementara inilah hadir orang ketiga dalam hidup Katie.

Film ini memberikan gambaran pemikiran pada kita mengenai suatu pernikahan. Jika di film, pernikahan yang tidak bahagia dapat dibenahi kembali dengan ending yang romantis yang ditulis oleh sang penulis cerita; pada kehidupan nyata hal ini tergantung dari pasutri itu sendiri.

Pernikahan yang bahagia tidak dapat begitu saja datang. Untuk mendapatkan pernikahan yang bahagia membutuhkan perjuangan, tidak hanya cinta. Perjuangan untuk tetap menepati janji pernikahan:  untuk saling menghormati, mengasihi, jujur, sabar, murah hati, percaya dan setia seumur hidup baik dalam suka maupun duka, dalam untung dan malang serta dalam sehat dan sakit.

Pada saat masalah datang ataupun rutinitas melanda dalam hidup pernikahan, keputusan untuk berpisah sementara hanya akan membuka peluang hadirnya orang ketiga dalam hidup pernikahan. Pada saat masa-masa kritis dalam pernikahan yang terbaik adalah berpaling kepada Tuhan, tetap setia dan berpegang teguh pada iman dan ajaran Yesus. Memohon pada Tuhan untuk memiliki hati yang peka, hati untuk tetap mencinta pada saat konflik datang adalah jauh lebih baik daripada berpaling kepada sesama.

Menyadari kembali apa yang membuat kita jatuh cinta pada pasangan kita dan tetap memberi kebebasan pada masing-masing untuk tumbuh menjadi tetap dua pribadi yang berbeda yang bisa saling mengisi dan melengkapi merupakan inti dari pernikahan.

…sebab apa yang telah dipersatukan Allah
Jangan diceraikan oleh manusia…

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Powered by: Wordpress