[warta 03] Thx Sorry

Tanggal terbit : 3 Agustus 2008

Bahasa merupakan salah satu bukti bahwa manusia adalah makhluk sosial, yang butuh kehadiran orang lain di hidupnya. Jutaan pengamatan dan perasaan dapat kita sampaikan pada orang lain.

Dua ucapan sederhana yang menurut saya amat sangat luar biasa adalah “Terima Kasih” dan “Maaf”. Maknanya amat mendalam.

“Terima Kasih” dalam bahasa Indonesia amatlah tepat. Suatu pernyataan bahwa kita menerima kasih dari orang lain. Kita menerima suatu tindakan yang membuat hidup kita lebih baik, sekecil apapun itu, dari siapapun itu. Dan ketika kita mengucapkan kata itu, kita secara sadar mengakui bahwa kita menerimanya. Suatu pengakuan yang mau tidak mau bisa dianggap sebagai suatu ‘hutang’ yang harus kita kembalikan baik ke orang yang bersangkutan, atau ke orang lain yang membutuhkan.

“Maaf” juga merupakan suatu kata yang amat luar biasa. Suatu kata yang mencerminkan bahwa manusia tidaklah sempurna, sehingga dapat berbuat suatu hal yang tidak mengenakkan bagi sesamanya, entah disengaja atau tidak. Hebatnya, kita-manusia menyadari hal tersebut sehingga mengucapkan “Maaf”. Suatu pengakuan akan ke-tidak-enak-an yang ditimbulkan, dan perasaan menyesal (yang tentunya harusnya disertai dengan suatu niat untuk memperbaiki dan berusaha tidak mengulanginya).

Dari dua pemahaman itu, tentu saya berharap bahwa kedua kata tersebut sering diucapakan. Artinya banyak ‘kasih’ yang beredar di muka bumi ini. Artinya banyak orang yang menyadari bahwa dia salah dan melukai orang lain (karena toh manusia pasti berbuat salah), sehingga mau memperbaikinya.

Saya sering (sangat) terganggu saat seorang anak tidak mengucapkan kedua kata ini saat menerima kasih atau melakukan kesalahan. Itu karena saya takut sekali terjadi suatu dunia dimana kata “Terima Kasih” tidak lagi terucap karena ada anggapan bahwa bantuan dari seseorang dianggap ‘sudah seharusnya’. Ngapain sih berterima kasih saat seseorang door-man membukakan pintu. Atau saat minta tambahan gelas ke pelayan, bukankah itu sudah tanggung jawabnya?

Saya juga takut sekali kalau terjadi suatu dunia dimana orang sudah mulai tidak kenal kata “Maaf”. Atau saat kita tidak mau menerima maaf orang lain. Marah-marah saat seseorang pelayan teledor, dan saat giliran kita teledor, rasanya gengsi banget untuk bilang “Maaf”.

Tapi rasanya sih ketakutan saya tidak beralasan. Orang tua dan sekolah tidak akan pernah lupa mengajarkan makna dua kata tersebut kepada anak-anak manusia. Apalagi, karena mengajarkan dua hal itu lebih mudah dan murah ketimbang mengajari anak-anak berhitung aritmatika atau bahasa asing. Dan yang dibutuhkan bukan bakat atau suatu ketrampilan, cukup hanya fakta bahwa anak-anak juga manusia yang mengenal kasih dan pertobatan, yang kebetulan dua hal penting dalam ajaran Kristus. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *