[travelog] Palembang (2005)

Dari yang aku ingat pas perjalanan ke Palembang bulan November 2005 lalu, ada 3 hal yang boleh dicatat:

1. Makanan

Pempek

Pernah ada yang bilang, kalo wong Palembang tiap hari makan Pempek. Kayaknya sih ini emang bener, soalnya di semua sudut kota Palembang, ada aja yang jual Pempek. Katanya sih yang terkenal itu: Pempek Dempo (di jl. Dempo Dalam), Pempek Pak Raden (banyak kan cabangnya di Jakarta?), Pempek Noni, Pempek Candy, dan banyak lagi.

pempek

pempek

Jenis pempek banyak macam; lenjer (roll panjang), adaan (bulat), keriting (kayak kerupuk keriting deh), kapal selam (isi telur), pempek tahu (kaya tahunya batagor deh), pempek pepaya (seperti pastel diisi serutan pepaya), dan pempek panggang. Semua jenis pempek ini biasanya dijual dengan 2 ukuran: besar dan kecil. Pempek model ini biasanya dimakan dengan cuko (kuah cuka asam).

Selain itu ada juga yang berkuah: Tekwan (kayak bakso ikan) dan Model (irisan pempek tahu.

Kemplang

Biasanya penjual pempek juga jual kerupuk atau istilah populernya kemplang. Tapi waktu itu, atas rekomendasi temen, beli kerupuknya di Toko Suwandi. Untuk mengurangi asupan minyak, maka kemplang panggang jadi alternatif yang OK banget! Dijualnya dalam ukuran ¼ kg & ½ kg. Setiap bungkus kemplang akan disertai sambal yg pedas asam.

Pindang Meranjat

Meranjat ini adalah nama kecamatan di Palembang yang terkenal dengan masakannya. Pindang ini dibuat dari ikan (kalau tidak salah ikan Belida/Bandeng.. lupa deh!) dan kuah asam pedas yang mirip tom yang gong. Segar dan sedap!

Waktu itu, makannya di tempat warung Ibu Ucha. Sambelnya, enak tenanan!

Martabak HAR

Selain itu, yang terkenal dari Palembang untuk makanannya adalah Martabak HAR -itu lho yang seperti ada di deket Roxy, martabak khas india.. pakai kuah kare kentang/kambing

2. Songket

Kalo Bali terkenal dengan kain kotak2 hitam-putih, Jawa terkenal dengan batiknya, nah Palembang nih terkenal dengan songketnya.

Songket

Songket

Kainnya sangat cantik, terutama dengan warna merah, biru, hijau, hitam dan benang emasnya. Harga mulai dari rp 500K-5000K/lembarnya. Pembuatannya masih dengan cara tenun yang dilakukan oleh pengrajin dengan alat tenun yang sederhana. Satu buah kain motif sederhana bisa diselesaikan dalam waktu 7-10 hari. Motif hiasnya biasanya flora dan fauna. Untuk kain songket yang mahal, dibuat dari benang sutera dan biasnya motifnya dalam bentuk frame.

Lokasi penjual kain songket ini di Palembang berada di Jl.Ki.Gede Ingsuro. Salah satu yang terkenal dan juga showroomnya bagus (seperti rumah adat Palembang) adalah Zainal Songket. Kain songketnya bagus banget, kebayanya juga dengan motif yang sangat cantik.

Karena mudah patah, kain songket ini tidak boleh di dry clean atau laundry, cukup diangin2kan. Bahkan kata salah satu penjual, biasanya kain songket yang mahal malah tidak untuk dipakai tetapi untuk dijadikan koleksi.

3. Sejarah Palembang

Katanya pusat kerajaan Sriwijaya ada di Palembang. Nah, pas kemarennya ke Palembang – sempet mengunjungi Museum Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya. Jadi inget pelajaran waktu di SD dulu. Di museum ini di dipamerkan 10 prasasti: Boom Baru (akhir abad ke-7 Masehi), Kedukan Bukit (682 Masehi), Talangtuo (684 Masehi), Telaga Batu (diperkirakan abad ke-7 Masehi), Kota Kapur (pesisir barat Bangka), Karang Birahi, Palas Pasemah, Bungkuk, Syddayatra, dan prasati di lempengan emas. Prasasti-prasasti itu menceritakan keberadaan Sriwijaya dan kutukan bagi para pembangkang.

Peninggalan Sriwijaya

Peninggalan Sriwijaya

Di museum ini juga, banyak diketemukan peninggalan China salah satunya adalah peta yang dibuat oleh Laksamana Chen-ho.

Untuk biaya masuk ke museum yang sangat sangat murah: Rp. 500,- (bener nih, engga kurang nolnya.. cuman dua aza nolnya..). Dengan biaya semurah ini museum tsb lumayan informatif, tamannya bagus, besar, dan bersih; tetapi keberadaan bangunan museum itu sendiri memprihatinkan. Langit2nya banyak yang sudah rusak (kayaknya kena rayap atau bocor?) serta kurangnya pengaturan kelembaban udara. Walau banyak dari prasasti yang didisplay adalah replikanya, tetapi beberapa asli. Jadi, mestinya dengan gedung yg baik – peninggalan2 ini mestinya masih bisa bertahan ratusan tahun lagi. Sayang kan kalau rusak begitu saja.

 

4 thoughts on “[travelog] Palembang (2005)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *